Minggu, 26 Mei 2019

TRANSFORMASI DUNIA MATEMATIKA


https://powermathematics.blogspot.com/
https://uny.academia.edu/MarsigitHrd




TRANSFORMASI DUNIA MATEMATIKA


Abstrak
Perjalanan perkembangan konsep matematika sangatlah panjang. Begitu banyak pemikiran yang lahirdari para ilmuan, dimana perjalanan berfikir mereka tidaklah terlepas dari aliran filsfat yang mereka anut. Seperti David Hilbert (1642 –1943) yang hadir dengan program Hilbertnya. Diawali dengan menolak solusi logika Russell untuk konsistensi masalah untuk aritmatika, terutama karena alasan bahwa aksioma reducibilitas tidak bisa diterima sebagai aksioma murni logis (1920). Tujuannya adalah untuk mengurangi teori himpunan, dan dengan itu metode biasa analisis, untuk logika, belum tercapai hari ini dan mungkin tidak dapat dicapai pada semua. Setelah itu program Hilbert dikritisi oleh Teorema ketidaklengkapan Gödel (Gödel, 1931) yang menunjukkan bahwa optimisme Hilbert tidak berdasar. Gödel menunjukkan bahwa sistem apa pun yang konsisten dengan seperangkat aksioma yang dapat dikomputasi yang mampu mengekspresikan aritmatika tidak akan pernah lengkap.
Kata Kunci: Program Hilbert, Teorema ketidaklengkapan Gödel



A.    Pendahuluan


Hermeneutika berasal dari bahasa Yunani “ hamencuin “ yang berarti menafsirkan. Di dalamnya terkandung abstraksi atau idealisasi. Demikian juga secara terminologinya hermeneutika bisa diterjemahkan ke dalam tiga pengertian: 1.Pengungkapan fikiran dalam kata kata, penterjamahan dan tindakan sebagai penafsir. 2. Usaha mengalihkan dari sutau bahasa asing yang maknanya gelap tidak diketahui ke dalam bahasa lain yang bisa dimengerti oleh si pembaca. 3. Pemindahan ungkapan fikiran yang kurang jelas, diubah menjadi bentuk ungkapan yang lebih jelas.  Ketika lingkungan yang difahami oleh seseorang yang berbeda, maka pengetahuan yang didapatkan akan berbeda pula, bahkan peristiwa yang sama dihayati oleh orang yang sama akan tetapi dalam waktu dan keadaan yang berbeda hasilnyapun dimungkinkan berbeda. Bahkan suatu peristiwa yang terjadi jika disentuh dan dipahami orang, maka peristiwa tersebut menjadi “peristiwa menurut orang yang menyentuh atau memahaminya. Unsur – unsur tersebut yang disebut fenomenologi. Unsur dasar fenomena sangatlah kompleks (misal matematika secara keseluruhan). Esensi dari model adalah konsep yang dibentuk dari idealiasasi dan abstraksi. dimana idealisasi merupakan suatu kegiatan di mana sifat-sifat yang ada diasumsikan sempurna dan merupakan pengasumsian sifat yang benar dari sifat-sifatnya dengan tujuan untuk menyederhanakan suatu model menjadi dari sifat-sifat benda di dunia nyata yang sangatlah komleks (Marsigit, 2012; Levy, 2018). Di  dalam idealisasi ada yang namanya pembeda atau jenis (sifat, hubungan, transformasi, dan operasi). Sementara abstraksi adalah  proses untuk memperoleh intisari konsep matematika, menghilangkan kebergantungannya pada objek-objek dunia nyata yang pada mulanya mungkin saling terkait, dan memperumumnya sehingga ia memiliki terapan-terapan yang lebih luas atau bersesuaian dengan penjelasan abstrak lain untuk gejala yang setara (https://id.wikipedia.org/wiki/Abstraksi_(matematika).

.  
Unsur fenomena berjalan dalam time and space. Operasi unsur dari fenomena menghasilkan  novelty (kebaruan).  Fenomena dapat berbentuk makro dan mikro.  misal dalam menggambarkan jakarta. Ketika kita menyebut jakarta maka didalam pikiran kita terbayang jakarta dengan penggambaran yang berbeda – beda dengan orang lain. Unsur dasar fenomena berupa sifat.  Sifat sebagai suatu konsep yang terdapat didalam rasio. Dalam realita konsep menjadi karakter fenomena. Konsep jika ditinggikan menjadi kuasa Tuhan. Yang paling dasar adalah ciptaan tuhan( benda/ objek/ konsep) yang di atasnya ada norma, dan ada belief. Untuk mengatur tempat kedudukan ada yang disebut formal(mind) dan substen. Fenomenologi adalah bagian dari hermeneutika yaitu ada yang berupa riset pengembangan dan pendalaman. Dalam riset pendalaman  muncul grounded teory dan studi kasus. Dan Matematika model merupakan bagian dari fenomena yang didalami.

Objek dalam matematika secara intensif tersusun bertingkat. Yang paling dasar adalah objek material yaita Benda-benda yang ada didunia nyata yang nampak secara kongkrit seperti batu, tanah, gunung, manusia, dan benda-benda lainnya. Dalam matematika objek-objek ini digunakan sebagai bagian dari matematika. Atau yang disebut dengan pembelajaran realistik.  Tingkatan selanjutnya adalah objek formal. Seorang peserta didik pada tingkat sekolah menengah diyakini telah dapat berfikir secara formal. Dimana pembelajaran matematika telah dapat dilepaskan dari konteks kehidupan nyata. Objek formal adalah Objek matematika secara formal bermakna hasil abstraksi dan idealisasi dari dari benda-benda kongkrit yang ditampakan dalam pikiran manusia (Marsigit, 2012). Misal pada materi Geometri , Statistika, dan aljabar. Seorang siswa pada tingkat sekolah menengah atas dapat disuguhkan konsep-konsep matematika tampa melibatkan aktualisasinya di dunia nyata. Karena pada tahap ini, seorang siswa diyakini telah dapat berfikir secara formal. Sebagai contoh, dalam pembelajaran transformasi linear. Kita dapati pengertian transformasi sebagai sebuah proses perubahan secara berangsur-angsur sehingga sampai pada tahap ultimate, perubahan yang dilakukan dengan cara memberi respon terhadap pengaruh unsur eksternal dan internal yang akan mengarahkan perubahan dari bentuk yang sudah dikenal sebelumnya melalui proses menggandakan secara berulang-ulang atau melipatgandakan. Menurut Laseau 1980 kategori  transformasi:

1.     Transformasi bersifat Tipologikal (geometri) bentuk geometri yang berubah dengan komponen pembentuk dan fungsi ruang yang sama.

2.     Transformasi bersifat gramatikal hiyasan (ornamental) dilakukan dengan menggeser, memutar, mencerminkan, menjungkirbalikkan, melipat dll.

3.     Transformasi bersifat refersal (kebalikan) pembalikan citra pada figur objek yang akan ditransformasi dimana citra objek dirubah menjadi citra sebaliknya.

4.     Transformasi bersifat distortion (merancukan) kebebasan perancang dalam beraktifitas.

Pada tahap formal siswa SMA disuguhkan materi transformasi seperti berikut:

a.     Translasi (pergeseran)

b.     Refleksi (pencerminan)

Contoh:


c.     Rotasi (perputaran)

d.     Dilatasi (perubahan ukuran)

Tahap ke tiga adalah objek normatif. Yaitu obyek-obyek matematika sebagai makna dari obyek-obyek material dan formal (Marsigit, 2012). Kembali kepada materi transformasi di atas. Pada tingkatan ini seorang siswa diyakini telah dapat memahami makna korolary, lemma, teorema, dan  definisi dari sebuah konsep. Dimana mereka telah dapat disuguhkan dengan materi transformasi yang lebih mendasar.

Dan yang terakhir adalah objek spritual yaitu Segala sesuatu yang menjadi ketentuan mutlak dari Tuhan YME, baik itu berupa takdir, ataupunbenda-benda kongkrit yang secara mutlak tidak dapat diciptakan oleh manusia.



B.    Ontologi dan Epistimologi Matematika

1.     Ontologi Matematika

Objek formal ontologies adalah hakekat realitas. Ontology adalah kajian utama filsafat selain epistimolgi dan axiology. Ontology adalah kajian filsafat ilmu yang yang membahas hakikat segala sesuatu yang ada, baik kongkrit maupun abstrak. Peran filsafat ilmu peran ontologies yaitu untuk memperjelas hakekat matematika.

Mengenai “apa itu matematika” dijelaskan oleh Russeffendi (1980) seagai ilmu berfikir deduktif karena matematika terorganisasikan  dari unsur-unsur yang tidak didefinisikan, definisi-definisi, aksioma-aksioma, dan dalil-dalil di mana dalil-dalil setelah dibuktikan kebenarannya berlaku secara umum. James dan James (1976) menyebutkan bahwa matematika adalah ilmu tentang logika, tentang bentuk, susunan, besarab dan konsep-konsep yang saling berhubungan. Senada dengan itu,  Reys - dkk (1984) mengatakan matematika adalah telaahan tentang pola dan hubungan, suatu jalan atau pola berpikir, suatu seni, suatu bahasa dan suatu alat. Selanjutnya Kline (1973) menegaskan matematika itu bukan pengetahuan menyendiri, melainkan pengetahuan yang ada untuk membantu manusia memahami dan menguasai permasalahan sosial, ekonomi dan alam. Sehingga dapat dikatakan bahawa matematika adalah ilmu pengetahuan yang mencakup konsep-kensep ilmiah yang bersifat terstruktur dan memiliki hubungan dengan banyak kajian keilmuan lainnya baik sains maupun social.

2.     Epistimologi Matematika

Istilah “Epistemologi” berasal dari bahasa Yunani yaitu “episteme” yang berarti pengetahuan dan ‘logos” berarti perkataan, pikiran, atau ilmu. Kata “episteme” dalam bahasa Yunani berasal dari kata kerja epistamai, artinya menundukkan, menempatkan, atau meletakkan. Maka, secara harafiah episteme berarti pengetahuan sebagai upaya intelektual untuk menempatkan sesuatu dalam kedudukan setepatnya. Bagi suatu ilmu pertanyaan yang mengenai definisi ilmu itu, jenis pengetahuannya, pembagian ruang lingkupnya, dan kebenaran ilmiahnya, merupakan bahan-bahan pembahasan dari epistemologinya.

epistemology is the branch of philosophy which investigates the origin, stukture, methods and validity of knowledge (Runes, 1971).



 Ernest (1991) menjelaskan bahwa pendekatan epistemologi yang secara luas diadopsi adalah dengan mengasumsikan bahwa pengetahuan dalam bidang apapun diwakili oleh seperangkat proposisi bersama dengan prosedur untuk memverifikasi kebenarannya. Atas dasar ini, pengetahuan matematika terdiri dari satu set proposisi bersama dengan bukti-buktinya. Menurut Ernest (1991) secara tradisional filsafat matematika telah melihat tugasnya sebagai penyedia landasan suatu kepastian pengetahuan matematika. Sehingga dapat disimpulkan bahwa epistimologi matematika adalah tentang bagaimana matematika itu diperoleh kebenarannya.

C.    TRANSFORMASI KONSEP MATEMATIKA

1.     Konsep Kalkulus (Limit Leibniz)

Menurut sejarah, konsep fungsi pertama kali digunakan oleh Leibniz dalam tahun 1673 untuk menyatakan ketergantungan antara sebuah besaran (kuantitas) dengan besaran lain:Misalkan:

a.     Luas sebuah lingkaran bergantung kepada panjang jari-jarinya dengan persamaan A = Ï€R2 kita katakan A adalah fungsi dari R.

b.     Kecepatan bola yang jatuh dari ketinggian tertentu meningkat sejalan dengan waktu sampai bola menyentuh tanah. Kecepatan v bergantung kepada t dikatakan v fungsi dari t.

c.     Pada suatu titik tertentu di bumi, kecepatan angin w bervariasi tergantung waktu t sehingga kita katakan bahwa “w fungsi dari t.”

d.     Dalam pembudidayaan bakteri, banyaknya bakteri setelah 1 jam bergantung kepada banyaknya bakteri pada awal, kita katakan “banyaknya bakteri setelah satu jam merupakan fungsi dari banyaknya bakteri pada permulaan.”

Untuk mendiskusikan fungsi atau relasi antara suatu kuantitas dengan kuantitas lain seorang ahli matematika dari Swiss, Leonhard Euler mengembangkan gagasan fungsi menggunakan huruf alphabet seperti f untuk menotasikan fungsi, dan ditulis sebagai berikut:

y = f(x) y adalah fungsi dari x

Dalam kalkulus diferensial, kita memiliki aturan bahwa:

  • Limit dari jumlah fungsi adalah jumlah dari limit fungsi-limit fungsi itu
  • Limit dari selisih dua fungsi adalah selisih dari limit fungsi-limit fungsi tersebut
  • Limit dari hasil kali dua fungsi adalah hasil kali dari limit-limit fungsi tersebut
  • Limit dari hasil bagi dua fungsi adalah hasil bagi dari limit-limit fungsi asalkan pembaginya tidak nol
  • Turunan dari jumlah fungsi adalah jumlah dari turunan fungsifungsi itu
  • Turunan dari selisih dua fungsi adalah selisih dari turunan fungsi

Adalah logis untuk mengatakan bahwa turunan dari hasilkali dua fungsi adalah hasil kali dari turunan-turunan fungsi tersebut. Bahkan sempat ditulis oleh Gottfried Wilhelm von Leibniz salah seorang penemu kalkulus.

Dalam naskah bertanggal 11 Nopember 1675, ia menghitung turunan dari hasil kali dua fungsi dan mengatakannya (tanpa pemeriksaan) bahwa ini sama dengan hasil kali turunanturunannya. Sepuluh hari kemudian, ia dapati bahwa hal ini salah dan ia mengoreksi kesalahan aturan perkalian ini, sehingga ia tuliskan sebagai berikut: Jika dua fungsi f dan g adalah fungsi-fungsi yang dapat diturunkan, maka

(f.g)’(x) = f(x). g’(x) + f’(x).g(x)

Link: https://video.quipper.com/id/blog/mapel/soal-uts/jangan-bilang-susah-kalau-belum-coba-ngulik-soal-logaritma-sma-kelas-x/

Dx[f(x).g(x)] = f(x) Dxg(x) + Dxf(x). g(x), yang dengan kata-kata dapat diungkapkan sebagai “Turunan dari hasil kali dua fungsi adalah fungsi pertama kali derivative fungsi kedua ditambah fungsi kedua kali turunan fungsi pertama.”

Contoh:



Notasi Leibniz untuk turunan masih banyak digunakan hingga saat ini terutama dalam ilmu terapan seperti fisika, kimia, dan ekonomi. Kemenarikannya terletak pada bentuknya yang seringkali memperlihatkan hasil yang benar dan kadang-kadang mendorong dan menarik bagaimana membuktikannya.
 


2.     Perkembangan Program Hilbert Hingga Pengaruh Teorema Godel

a.     Formalitas Hilbert

David Hilbert (1642 –1943) berpendapat bahwa matematika adalah tidak lebih atau tidak kurang sebagai bahasa matematika. Hal yang dimaksudkan adalah permainan formula (Hal ini disederhanakan sebagai deretan permainan dengan rangkaian tanda –tanda lingistik, seperti huruf-huruf dalam alpabet Bahasa Inggeris. Bilangan dua ditandai oleh beberapa tanda seperti 2, II atau SS0. Dan sampai sejauh mana permainan formula itu dimungkinkan? Permainan rumus ini memungkinkan kita untuk mengekspresikan seluruh isi pemikiran dari ilmu matematika secara seragam dan mengembangkannya sedemikian rupa sehingga, pada saat yang sama, keterkaitan antara proposisi individu dan fakta menjadi jelas.

Hilbert juga menekankan bahwa matematika merupakan permainan dengan aturan; bagaimana cara kita berpikir, berbicara dan menulis. Hal ini didasarkan Filosofi dasar formalisme, seperti yang dicontohkan oleh David Hilbert sebagai  respons terhadap paradoks teori himpunan, dan didasarkan pada logika formal. Hampir semua teorema matematika hari ini dapat dirumuskan sebagai teorema teori himpunan. Kebenaran pernyataan matematis, dalam pandangan ini, diwakili oleh fakta bahwa pernyataan tersebut dapat diturunkan dari aksioma teori himpunan menggunakan aturan logika formal.

Hermann Weyl (1921) memaparkan pertanyaan-pertanyaan Hilbert seperti berikut:

Apa "kebenaran" atau objektivitas dapat dianggap berasal dari konstruksi teoretis dunia ini, yang jauh melampaui yang diberikan, adalah masalah filosofis yang mendalam. Ini terkait erat dengan pertanyaan lebih lanjut: apa yang mendorong kita untuk mengambil sebagai dasar tepatnya sistem aksioma tertentu yang dikembangkan oleh Hilbert? Konsistensi memang diperlukan tetapi bukan kondisi yang memadai. Untuk saat ini kami mungkin tidak dapat menjawab pertanyaan ini

Dalam beberapa kasus pertanyaan-pertanyaan ini dapat dijawab dengan cukup melalui studi teori formal, dalam disiplin ilmu seperti matematika terbalik dan teori kompleksitas komputasi. Seperti dicatat oleh Weyl, sistem logis formal juga menghadapi risiko inkonsistensi; dalam aritmatika Peano, ini bisa dibilang telah diselesaikan dengan beberapa bukti konsistensi, tetapi ada perdebatan tentang apakah mereka cukup finansial untuk bermakna. Teorema ketidaklengkapan Gödel yang kedua menyatakan bahwa sistem aritmatika yang logis tidak akan pernah bisa mengandung bukti valid dari konsistensi mereka sendiri. Yang ingin dilakukan Hilbert adalah membuktikan sistem logis S konsisten, berdasarkan pada prinsip P yang hanya membentuk sebagian kecil dari S. Tetapi Gödel membuktikan bahwa prinsip-prinsip P bahkan tidak dapat membuktikan P untuk konsisten, apalagi S.

Hilbert yang berpikir untuk meletakkan matematika pada dasar kecil dari sistem logis terbukti suara dengan cara. Dengan tujuan tersebut maka dibuatlah program Hilbert dimana lawan utamanya adalah sekolah intuitionist, yang dipimpin oleh L. E. J. Brouwer, yang dengan tegas membuang formalisme sebagai permainan tanpa makna dengan simbol (van Dalen, 2008). Pertarungan sangat sengit. Pada 1920 Hilbert berhasil memiliki Brouwer, yang dia anggap sebagai ancaman bagi matematika, dihapus dari dewan editorial Mathematische Annalen, jurnal matematika terkemuka saat itu.

b.     Program Hilbert

Hilbert yang berpikir untuk meletakkan matematika pada dasar kecil dari sistem logis terbukti suara dengan cara finitistic metamathematical. Lawan utamanya adalah sekolah intuitionist, yang dipimpin oleh L. E. J. Brouwer, yang dengan tegas membuang formalisme sebagai permainan tanpa makna dengan simbol (van Dalen, 2008). Pertarungan sangat sengit. Pada 1920 Hilbert berhasil memiliki Brouwer, yang dia anggap sebagai ancaman bagi matematika, dihapus dari dewan editorial Mathematische Annalen, jurnal matematika terkemuka saat itu.

Pemikiran Hilbert yang menolak menolak solusi logika Russell untuk konsistensi masalah untuk aritmatika, terutama karena alasan bahwa aksioma reducibilitas tidak bisa diterima sebagai aksioma murni logis melahirkan program Hilbert pada tahun 1920. Tujuannya adalah untuk mengurangi teori himpunan, dan dengan itu metode biasa analisis, untuk logika, belum tercapai hari ini dan mungkin tidak dapat dicapai pada semua (Hilbert, 1920). Mantan murid Hilbert, Hermann Weyl, pindah aliran intuitionism dan mengkritisi Hilbert pada sebuah Seminar Matematika Hamburg dengan istilah “krisis dasar baru dalam matematika ”. pada tahun 1921 dijawab oleh Hilbert dalam tiga pembicaraan di Hamburg pada Musim Panasia memaparkan ide-ide ide-idenya pada proposal tersebut yang yang telah ada dari tahun 1904 tentang konsistensi langsung bukti, konsepsinya tentang sistem aksiomatik, dan juga perkembangan teknis dalam aksioma matematika dalam karya Russell serta perkembangan lebih lanjut yang dilakukan oleh dia dan kolaboratornya. Apa yang baru adalah caranya di mana Hilbert ingin mengilhami proyek konsistensi dengan filosofis:

.

Menurut Hilbert, ada bagian yang istimewa dari matematika, kontekstual teori bilangan dasar, yang hanya bergantung pada "dasar konkret yang murni intuitif tanda-tanda. "Sedangkan operasi dengan konsep abstrak dianggap" tidak memadai dan tidak pasti, "ada bidang objek diskrit ekstra-logis, yang ada secara intuitif sebagai objek langsung sebelum semua pikiran. Jika kesimpulan logis ingin dipastikan, maka objek-objek ini harus mampu sepenuhnya disurvei di semua bagian, dan presentasi mereka, perbedaan mereka, suksesi mereka (seperti objek itu sendiri) harus ada untuk kita segera, secara intuitif, sebagai sesuatu yang tidak bisa direduksi menjadi sesuatu yang lain.



Tujuan utama program Hilbert adalah untuk memberikan fondasi yang aman untuk semua matematika. Secara khusus ini harus mencakup:

  • A formulation of all mathematics; in other words all mathematical statements should be written in a precise formal language, and manipulated according to well defined rules.
  • Completeness: a proof that all true mathematical statements can be proved in the formalism.
  • Consistency: a proof that no contradiction can be obtained in the formalism of mathematics. This consistency proof should preferably use only "finitistic" reasoning about finite mathematical objects.
  • Conservation: a proof that any result about "real objects" obtained using reasoning about "ideal objects" (such as uncountable sets) can be proved without using ideal objects.
  • Decidability: there should be an algorithm for deciding the truth or falsity of any mathematical statement.

Hilbert dan Bernays mengembangkan ε- kalkulus sebagai formalisme definitif mereka untuk sistem aksioma untuk aritmatika dan analisis, dan apa yang disebut metode substitusi ε sebagai pendekatan yang disukai untuk memberikan bukti konsistensi. Secara singkat, ε- kalkulus adalah formalisme yang memasukkan ε sebagai operator pembentuk istilah. Jika A ( x ) adalah rumus, maka ε x A ( x ) adalah istilah, yang secara intuitif erarti saksi untuk A ( x ). Dalam formalisme logis yang mengandung ε- operator, bilangan dapat menjadi didefinisikan oleh: xA ( x ) ≡ A ( ε x A ( x )) dan xA ( x ) ≡ A ( ε x ¬A ( x )). Satu-satunya tambahan aksioma yang diperlukan adalah apa yang disebut “aksioma transfinite,” A ( t ) → A ( ε x A ( x )).

Berdasarkan pada gagasan ini, Hilbert dan rekan-rekannya mengembangkan aksioma angka teori dan analisis. Bukti konsistensi untuk sistem ini kemudian diberikan dengan menggunakan metode ε -substitusi. Gagasan metode ini adalah, kira-kira, bahwa ε -terms ε x A ( x ) yang terjadi dalam bukti formal digantikan oleh angka aktual, menghasilkan sebuah bukti bebas kuantifier. Kasus paling sederhana, yang diuraikan dalam makalah Hilbert, adalah sebagai berikut. Misalkan kita memiliki derivasi (yang dinormalisasi) dari 0 = 1 yang hanya berisi satu ε -term ε x A ( x ). Ganti semua kemunculan ε x A ( x ) dengan 0. Contoh dari Aksioma transfinite adalah semua bentuk A ( t ) → A (0). Karena tidak ada ε -terms lainnya terjadi pada buktinya, A ( t ) dan A (0) adalah rumus numerik dasar tanpa pembilang dan, kita dapat mengasumsikan, juga tanpa variabel bebas. Sehingga mereka dapat dievaluasi oleh perhitungan finansial. Jika semua contoh seperti itu ternyata benar formula numerik, kita sudah selesai. Jika tidak, ini pasti karena A ( t ) benar untuk beberapa t , dan A (0) itu salah. Kemudian ganti ε x A ( x ) sebagai ganti dengan n , di mana n adalah nilai numerik dari istilah t . Bukti yang dihasilkan kemudian dilihat sebagai turunan dari 0 = 1 dari benar, rumus numerik murni hanya menggunakan modus ponens, dan ini tidak mungkin. Memang, prosedur ini hanya berfungsi dengan sedikit modifikasi meskipun ada aksioma induksi, yang dalam ε- kalkulus mengambil bentuk angka paling sedikit prinsip: A ( t ) → ε x A ( x ) ≤ t , yang secara intuitif membutuhkan ε x A ( x ) sebagai yang terkecil saksi untuk A ( x ).



c.     Teorema Ketidaklengkapan Gödel

Teorema ketidaklengkapan Gödel (Gödel, 1931) menunjukkan optimisme Hilbert tidak berdasar. Pada bulan September 1930, Kurt Gödel mengumumkan tidak lengkap pertamanya teorema ness pada sebuah konferensi di Königsberg. Von Neumann, yang ada di hadirin, segera menyadari pentingnya hasil Gödel untuk Hilbert program. Tak lama setelah konferensi dia menulis kepada Gödel, mengatakan kepadanya bahwa dia telah menemukan akibat wajar untuk hasil Gödel. Gödel telah menemukan hasil yang sama secara mandiri: teorema ketidaklengkapan kedua, menyatakan bahwa sistem Principia tidak membuktikan formalisasi klaim bahwa sistem-prinsip cipia konsisten (asalkan itu). Semua metode penalaran finansial digunakan di bukti konsistensi sampai saat itu diyakini dapat diformalkan di Principia , namun. Oleh karena itu, jika konsistensi Principia dapat dibuktikan dengan metode digunakan dalam bukti Ackermann, itu harus mungkin untuk memformalkan bukti ini di-prinsip cipia ; tetapi inilah yang dinyatakan oleh teorema ketidaklengkapan kedua sebagai tidak mungkin.

Bernays juga segera menyadari pentingnya hasil Gödel setelah ia belajar dari makalah Gödel pada Januari 1931. Dia menulis kepada Gödel bahwa (dengan asumsi bahwa alasan keuangan dapat diformalkan dalam Principia ) theory ketidaklengkapan tampaknya menunjukkan bahwa bukti konsistensi finansial Principia tidak mungkin. Tak lama kemudian, von Neumann menunjukkan bahwa bukti konsistensi Ackermann adalah cacat dan memberikan contoh tandingan terhadap prosedur substitusi ε yang diusulkan . Meskipun dampak teorema ketidaklengkapan Gödel untuk pro- vitas Hilbert sults oleh Ackermann dan Bernays di ε -calculus. Itu juga termasuk Herbrand (1930) bekerja pada teori bukti, dan sketsa bukti konsistensi Gentzen (1936) aritmatika orde pertama. Karya Bernays dan Gentzen, khususnya, berfokus pada kemungkinan perluasan dari sudut pandang keuangan yang dapat menghasilkan bukti konsistensi untuk bagian besar matematika terlepas dari teorema Gödel. Bukti konsistensi pertama Gentzen untuk teori bilangan, yang disebut bukti kitchen (1935), adalah hasil dari kombinasi karya Gentzen (1934) sebelumnya pada log formalisme ical dari kalkulus sekuens, yang memberikan bukti-secara teoritis lebih aksioma nyaman aritmatika, dan strategi baru untuk membuktikan konsistensi. Strategi ini melibatkan pendefinisian “langkah-langkah reduksi” tertentu pada bukti: lokal transformasi bagian dari derivasi dalam formalisme baru. Konsistensi bukti kemudian dilanjutkan dengan menunjukkan bahwa dengan mengulangi enguranganini pada bukti akhirnya tiba di bukti bentuk khusus (bukti bebas dari aturan cut dan aturan induksi), dan tidak ada bukti dari bentuk seperti itu dapat menjadi bukti kontradiksi.

Versi pertama buktinya mengandalkan gagasan aturan pengurangan, yang dengan sendirinya tidak dapat diformalkan dalam aritmatika. Gagasan ini bertemu dengan beberapa keberatan, dan dalam versi revisi dan yang diterbitkan (1936), Gentzen menggantikan seruan untuk pengurangan aturan dengan bukti bahwa iterasi langkah reduksi itu sendiri berakhir. Dia melakukan ini dengan menetapkan ukuran untuk kompleksitas derivasi yang diberikan, dan menunjukkan itu

hasil penerapan langkah reduksi ke bukti mengurangi kompleksitas ukuran bukti itu. Ukuran kompleksitas yang digunakan Gentzen terbatas string angka yang dapat diartikan sebagai penamaan tata cara yang terhitung kurang dari ε 0 .

Hasil konsistensi kemudian mengikuti jika seseorang menerima bahwa tidak ada urutan menurun yang terbatas dari notasi ordinal seperti itu, atau, lebih tepatnya, dengan menggunakan induksi tak terbatas hingga ε 0 . Prinsip ini, dengan teorema ketidaklengkapan Gödel, tidak dapat dengan sendirinya diformalkan dalam aritmatika orde pertama (Gentzen, 1943). Gentzen bukti diperbolehkan Ackermann (1940) untuk memberikan bukti konsistensi yang benar berdasarkan pada Metode substitusi ε untuk aritmatika orde pertama, juga didasarkan pada induksi transfinite hingga   Îµ 0.



Teorema ketidaklengkapan Gödel, yang diterbitkan pada tahun 1931, menunjukkan bahwa program Hilbert tidak dapat dicapai untuk bidang-bidang utama matematika. Dalam teorema pertamanya, Gödel menunjukkan bahwa sistem apa pun yang konsisten dengan seperangkat aksioma yang dapat dikomputasi yang mampu mengekspresikan aritmatika tidak akan pernah lengkap: adalah mungkin untuk membangun pernyataan yang dapat terbukti benar, tetapi itu tidak dapat diturunkan dari aturan formal sistem. Dalam teorema keduanya, ia menunjukkan bahwa sistem semacam itu tidak dapat membuktikan konsistensinya sendiri, sehingga tentu saja tidak dapat digunakan untuk membuktikan konsistensi sesuatu yang lebih kuat dengan pasti. Ini membantah anggapan Hilbert bahwa sistem finitistik dapat digunakan untuk membuktikan konsistensi dirinya sendiri, dan karenanya hal lain.



d.     Kesimpulan hasil penemuan Godel

Kurt Gödel menunjukkan bahwa sebagian besar tujuan program Hilbert tidak mungkin tercapai, setidaknya jika ditafsirkan dengan cara yang paling jelas. Teorema ketidaklengkapan kedua Gödel menunjukkan bahwa teori konsisten apa pun yang cukup kuat untuk menyandikan penambahan dan penggandaan bilangan bulat tidak dapat membuktikan konsistensinya sendiri. Ini menghadirkan tantangan bagi program Hilbert:

·       It is not possible to formalize all mathematical true statements within a formal system, as any attempt at such a formalism will omit some true mathematical statements. There is no complete, consistent extension of even Peano arithmetic based on a recursively enumerable set of axioms.

  • A theory such as Peano arithmetic cannot even prove its own consistency, so a restricted "finitistic" subset of it certainly cannot prove the consistency of more powerful theories such as set theory.
  • There is no algorithm to decide the truth (or provability) of statements in any consistent extension of Peano arithmetic. Strictly speaking, this negative solution to the Entscheidungsproblem appeared a few years after Gödel's theorem, because at the time the notion of an algorithm had not been precisely defined.

e.     Program Hilbert Setelah Godel

Teori Godel tentu saja mempengaruhi konsepsi Hilbert. Sehingga ia pun menggubah beberapa konsep dalam program Hilbert. Banyak jalur penelitian saat ini dalam logika matematika, seperti teori bukti dan matematika terbalik, dapat dilihat sebagai kelanjutan alami dari program asli Hilbert. Sebagian besar dapat diselamatkan dengan mengubah tujuannya sedikit (Zach 2005), dan dengan modifikasi berikut beberapa di antaranya berhasil diselesaikan:

1.     Meskipun tidak mungkin untuk memformalkan semua matematika, pada dasarnya dimungkinkan untuk memformalkan semua matematika yang digunakan siapa pun. Secara khusus teori himpunan Zermelo-Fraenkel, dikombinasikan dengan logika orde pertama, memberikan formalisme yang memuaskan dan diterima secara umum untuk hampir semua matematika saat ini.

2.     Meskipun tidak mungkin untuk membuktikan kelengkapan untuk sistem setidaknya sekuat aritmatika Peano (setidaknya jika mereka memiliki seperangkat aksioma yang dapat dihitung), dimungkinkan untuk membuktikan bentuk kelengkapan untuk banyak sistem menarik lainnya. Keberhasilan besar pertama adalah oleh Gödel sendiri (sebelum ia membuktikan teorema ketidaklengkapan) yang membuktikan teorema kelengkapan untuk logika tingkat pertama, yang menunjukkan bahwa konsekuensi logis dari serangkaian aksioma dapat dibuktikan. Contoh dari teori non-sepele yang kelengkapannya telah dibuktikan adalah teori bidang yang secara aljabar tertutup dengan karakteristik yang diberikan.

3.     Pertanyaan tentang apakah ada bukti konsistensi finansial dari teori-teori yang kuat sulit untuk dijawab, terutama karena tidak ada definisi yang diterima secara umum tentang "bukti keuangan". Kebanyakan ahli matematika dalam teori pembuktian nampaknya menganggap matematika finiter sebagai yang terkandung dalam aritmetika Peano, dan dalam hal ini tidak mungkin untuk memberikan bukti finansial dari teori-teori yang cukup kuat. Di sisi lain, Gödel sendiri menyarankan kemungkinan untuk memberikan bukti konsistensi finansial menggunakan metode finitary yang tidak dapat diformalkan dalam aritmatika Peano, sehingga ia tampaknya memiliki pandangan yang lebih liberal tentang metode finansial apa yang diperbolehkan. Beberapa tahun kemudian, Gentzen memberikan bukti konsistensi untuk aritmatika Peano. Satu-satunya bagian dari bukti ini yang tidak jelas finitary adalah induksi transfinite tertentu hingga ε0 ordinal. Jika induksi tak terbatas ini diterima sebagai metode finitary, maka orang dapat menyatakan bahwa ada bukti finansial dari konsistensi aritmatika Peano. Himpunan bagian yang lebih kuat dari aritmatika orde kedua telah diberikan bukti konsistensi oleh Gaisi Takeuti dan yang lainnya, dan orang dapat kembali berdebat tentang seberapa tepat atau konstruktif bukti-bukti ini. (Teori-teori yang telah terbukti konsisten dengan metode ini cukup kuat, dan termasuk sebagian besar matematika "biasa").

4.     Meskipun tidak ada algoritma untuk memutuskan kebenaran pernyataan dalam aritmatika Peano, ada banyak teori yang menarik dan non-sepele yang algoritma tersebut telah ditemukan. Sebagai contoh, Tarski menemukan sebuah algoritma yang dapat memutuskan kebenaran pernyataan apa pun dalam geometri analitik (lebih tepatnya, ia membuktikan bahwa teori bidang tertutup nyata dapat dipilih). Mengingat aksioma Cantor-Dedekind, algoritma ini dapat dianggap sebagai algoritma untuk memutuskan kebenaran dari setiap pernyataan dalam geometri Euclidean. Ini substansial karena beberapa orang akan menganggap geometri Euclidean sebagai teori sepele.












































DAFTAR PUSTAKA

D. Hilbert. 'Die Grundlagen Der Elementaren Zahlentheorie'. Mathematische Annalen 104:485–94. Translated by W. Ewald as 'The Grounding of Elementary Number Theory', pp. 266–273 in Mancosu (ed., 1998) From Brouwer to Hilbert: The debate on the foundations of mathematics in the 1920s, Oxford University Press. New York.



G. Gentzen, 1936/1969. Die Widerspruchfreiheit der reinen Zahlentheorie. Mathematische Annalen 112:493–565. Translated as 'The consistency of arithmetic', in The collected papers of Gerhard Gentzen, M. E. Szabo (ed.), 1969.



Kline, morris. (1973). Matematika Ilmu Dalam Perspektif. Ed. Jujun Suriasumantri. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Hilbert, D. (1922), "Neubegründung der Mathematik. Erste Mitteilung", Hamburger Mathematische Seminarabhandlungen 1, 157–177. Translated, "The New Grounding of Mathematics. First Report", in (Mancosu 1998).

James and James, Van. 1976. Mathematic Dictionary. Nostrand Rienhold

Marsigit. (2012). Philosophy of Mathematics Education. Diakses dari: https://www.academia.edu/1809148/Philosophy_of_mathematics_Education_by_Marsigit

Reys, dkk. 1984. Dasar-Dasar Matematika. Jakarta: Bumi Aksara.

Runes, Dagobert D. 1975. Dictionary of Philosophy. New Jerse. Adam dan Totowa





Ruseffendi, ET, Pengajaran Matematika Modern, Bandung: Tarsito, 1980.

R. Zach, 2006. Hilbert's Program Then and Now. Philosophy of Logic 5:411–447, arXiv:math/0508572 [math.LO].

S.G. Simpson, 1988. Partial realizations of Hilbert's program. Journal of Symbolic Logic 53:349–363.

Weyl, H. (1921), "Über die neue Grundlagenkrise der Mathematik", Mathematische Zeitschrift 10, 39–79. Translated, "On the New Foundational Crisis of Mathematics", in (Mancosu 1998).

Wikipedia. 2019. Diakses 20 mei 2019 di https://id.wikipedia.org/wiki/Teorema_ketaklengkapan_G%C3%B6del


link : 
powermathematics.blogspot.com
uny.academia.edu/MarsigitHrd



 







Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TRANSFORMASI DUNIA MATEMATIKA

https://powermathematics.blogspot.com/ https://uny.academia.edu/MarsigitHrd TRANSFORMASI DUNIA MATEMATIKA Abstrak Perjalan...